Sesungguhnya masa yang disebut dengan masa pacaran adalah masa yang sangat sulit untuk mendeteksi kejujuran dan memahami kepribadian. Sebab setiap pasangan telah melakukan kamuflase terhadap pasangannya masing-masing, maka kita melihat banyaknya kegagalan didalam membangun rumah tangga seperti pasangan yang membangun rumah tangganya dengan pacaran. Bahkan banyak pulan diantara mereka yang gagal sebelum menuju kepelaminan serta ia berani mengorbankan segalanya termasuk kehormatan dirinya, Karena apa yang selama ini ditutupi selama masa pacaran telah tersingkap. Sebab perkawinan telah berubah dari yang luar biasa menjadi biasa, maka telah nyata emas dengan loyangnya, telah nyata benang dengan suteranya. Tidah mungkin mawaddah dan rahmah antara suami dan istri kecuali dalam perkawinan yang sah, setelah menikan barulah muncul mawaddah dan rahmah, setelah menikah baru muncul mahabbah antara pasangan, baru timbul rasa kasih sayang padanya.
Sebagaimana banyak juga orang menyangka bahwa cinta bisa tua sebagaimana tuanya manusia, ia mulanya bagai bunga yang mulai tumbuh dengan putiknya lalu mekar untuk kemudian layu, begitu juga mereka bercerita tentang cinta, mereka mengatakan dengan berlalunya masa, cinta akan sirna dan yang tersisa hanya basa basi saja dan ini adalah pemahaman yang salah dan pemahaman ini banyak sekali dipahami oleh banyak pasangan sehingga mereka tidak lagi berupaya untuk menghidupkan cintanya yang telah mati atau tidak lagi merindangkan dahan dan batangnya dengan dedaunan cinta seakan-akan dia telah pasrah dengan keadaan dan telah kalah dalam berperang. Baginya memupuk cinta sama dengan memindahkan matahari ke utara dan itu merupakan hal yang mustahil.
Berkata Ibnu Qayyim Rahimahullah di dalam kitabnya "Tidak ada mahabbah seseorang dalam mabuk cintanya terhadap istrinya kecuali kecintaan tersebut menyibukkan dari kecintaan yang lebih bermanfaat yaitu cinta kepada Allah dan Rasulnya, dan dapat menyempitkan kecintaan terhadap Rasulullan karena semua kecintaan yang menyempitkan kecintaan terhadap Allah dan Rasulnya maka ia tercela sebaliknya jika cinta tersebut memperteguh terhadap kecintaanya terhadap Allah dan Rasulnya dan menjadi sebab kekuatan cintanya kepada Allah dan Rasul maka itu adalah hal yang terpuji.
Sesungguhnya cinta yang bermanfaat terbagi tiga yaitu cinta Allah, cinta pada Allah, dan cinta yang dapat membantu terhadap ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiatnya dan kecintaan yang mudharat juga terbagi tiga, cinta bersama Allah, cinta terhadap apa yang dimurkai Allah, dan cinta yang dapat memutuskan kecintaan terhadap Allah atau menguranginya. Inilah keenam pembagian cinta dan keenamnya menjadi poros cinta bagi manuasia. Kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla adalah dasar segala cinta yang terpuji dan ia menjadi dasar iman, tauhid dan dua bagian lainnya adalah sebagai pendukungnya.
0 comments:
Post a Comment